Rabu, 06 Februari 2013


KALUNG
.:Galuh Chrysanti:.
Ahmad memekik pelan, hampir saja motor ojek yang ditumpanginya terpeleset lumpur yang masih menyisa di jalan, jejak hujan beberapa jam yang lalu.
“Hati-hati Mas, konsentrasi.” Kata pemuda itu pada sang pengemudi, “Memang mereka ayu-ayu, tapi keselamatan lebih penting, ya ‘tho?”
Yang ditegur hanya tersipu. Di depan mereka kebetulan memang sedang berjalan beriringan rombongan gadis berkerudung. Menambah indahnya warna-warni pemandangan menuju rumah ibunda Ahmad di Desa Kenjuran, desa tertinggi di Puncak Pegunungan Perahu, Jawa Tengah.
Semerbak aroma kebun cengkeh berbaur dengan wangi tanah yang terbasahi hujan menggoda cuping hidung Ahmad. Jalan bebatuan yang terus menanjak berkelok-kelok, bukit, dan lembah silih berganti, ladang jagung, rumah-rumah pedesaan berdinding kayu beratap genting kodok, senyum anak-anak kecil, satu tikungan lagi, dan hati Ahmad  pun bergetar ketika matanya akhirnya menambat di rumah ibunda yang teramat dicintainya. Kekasih hati yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Ambu, panggilan sayang yang tak pernah diubahnya sejak usianya masih sembilan bulan dan belum mampu dengan sempurna mengucapkan kata ‘ibu’.
“Alhamdulillah, makasih, Mas,” kata Ahmad sambil menyelipkan sehelai uang sepuluhribuan, ongkos ojek ke rumahnya dari Terminal Sukorejo, terminal di kecamatan terdekat di kaki gunung.
Tidak seperti rumah warga lain di Kenjuran, rumah Ambu berdiri sendiri, tidak menempel dengan rumah tetangga. Terasnya cukup lapang, dimana Ahmad bisa memandang ke penjuru desa. Di sebelah timurnya rumah-rumah penduduk bertingkat-tingkat menuruni lembah, di sebelah Utara menghampar hutan bambu, dan di Barat adalah ladang-ladang penduduk di perbukitan yang berakhir di hutan cemara nan teduh di puncak bukit tertinggi. Hawanya sangat dingin, hampri sedingin Dieng bertahun-tahun yang lalu. Jika kita berjalan-jalan ba’da Ashar di luar rumah, maka muka kita yang terbuka serasa diserbu dan ditampar-tampar oleh hembusan uap sedingin es.
“Assalamualaikum,” salam Ahmad.
Tak ada sahutan namun pintu depan tak terkunci. Di bukanya pintu yang mendecitkan derit khas rumah tua. Rumah Ambu sendiri adalah rumah yang sangat Ahmad hapal setiap lekuknya, bahkan mungkin juga setiap bekas paku yang pernah tertoreh di sana. Namun ruang yang paling Ahmad suka adalah dapur.
Dapur Ambu sangat luas, beralaskan tanah yang dipadatkan. Ada dipan untuk menonton tv, tungku bata dengan dua lubang untuk membuat api, rak-rak panci dan wajan serta bak cuci piring di sudut ruangan di mana bilah bambu mengucurkan air gunung tiada henti. Langit-langit dapur digunakan untuk mengasapi bonggol jagung. Bonggol jagung yang telah kering akan digunakan sebagai kayu bakar untuk menghangatkan penghuni rumah. Namun kini penghuni tetap rumah ini dua orang saja. Ambu dan seorang kerabat yang berbaik hati menjaga dan menunggui Ambu.
Ambu sedang lelap. Ahmad bersimpuh di sisi dipan lalu mencium lembut dahi ibu tercintanya tanpa suara. Ambulah yang mendominasi pinta doanya pada Allah beberapa tahun terakhir. Munajat untuk keshatan Ambu, dan terlebih untuk sebuah terang hidayah agar Ambu yang sangat dikasihinya ini mau menegakkan shalat.
“Ambu sudah tua, ‘Mad, sudah susah belajar shalat. Yang penting Ambu selalu berbuat baik pada orang lain, berdoa pada Gusti Allah,” begitu selalu kilah Ambu kalau Ahmad membujuknya untuk shalat.
Jika saja Ambu mau shalat, Ambu seolah tanpa cela di gudang memori Ahmad. Hutang budi teramat musykil bisa dibayar lunas. Apalagi sepeninggal almarhum ayah kerena sakit mendadak ketika Ahmad masih balita, Ambulah satu-satunya orang setia menyayanginya dan mendampinginya hingga dewasa.
Rasanya baru sekejapan mata berlalu sejak ia berangkat sekolah diantar Ambu. Masih terpatri kuat semua kenangan tentang masa kecil ceria bersama Ambu. Makan disuapi Ambu dan... Ambu yang selalu menyisakan sekepal nasi setiap makan.
“Untuk bebek tetangga,” begitu jawab Ambu pada Ahmad kecil yang bertanya kenapa sang ibu tak pernah lupa melakukan hal tersebut.
Di desa mereka, Ambu memang dikenal warga sebagai orang yang sangat suka berbagi. Walau almarhum ayah Ahmad mewariskan mereka sepetak tanah yang kemudian mereka sewakan pada petani, hasil yang didapat sesungguhnya hanya cukup untuk sekadar melakoni hidup sederhana sehari-hari. Tapi sampai Ahmad sebesar ini, Ahmad tahu, tak pernah sekalipun Ambu melewatkan satu hari tanpa sedekah. Apakah itu berupa uang, beras, gula, satau bahkan hanya berbagi kehangatan dengan tetangga di muka tungku di dapurnya yang luas dengan teh, kopi, dan singkong rebus.
“Sudah lama beliau tidur, ‘Lik?” taya Ahmad pelan pada buliknya yang setia menjaga Ambu.
“Sekitar dua jam,’Mad. Alhamdulillah bisa tidur. Biasanya sangat gelisah, mungkin karena tahu buah hatinya akan datang,” jawab Bulik sambil tersenyum pada keponakan yang sedang mencium tangannya itu.
Ditatapnya dengan perasaan sayang sang keponakan yang kini sedang tumbuh menjadi seorang pemuda. Paras Ahmad sebetulnya biasa saja. Namun pembawaannya yang tenang ditambah mata teduh dan senyum yang selalu mengembang membuatnya terlihat gagah dan matang.
Rebah terbalut kebaya dan kain, Ambu terlihat makin kurus saja. Akhir-akhir ini Ambu selalu mengeluh dadanya nyeri. Sudah dibawa ke puskesmas terdekat tapi tak banyak membantu. Hanya dokter berpesan supaya Ambu jangan banyak pikiran. “Betapa aku mencintaimu, Ambu,” desah hati Ahmad.
Dipandangnya fotonya berdua bersama Ambu yang terpajang di samping dipan Ambu.  Foto krtika ia hendak berangkat merantau ke Jakarta karena ia diterima di universitas negeri di sana, di foto itu Ambu tampak masih sehat. Ingatan Ahmad pun melayang mundur empat tahun ke belakang.

Kala itu perasaan Ambu teaduk-aduk. Bahagia karena cahaya semata wayangnya lulus penerimaan universitas negeri di ibu kota, pilu karena tahu bahwa perpisahan adalah keniscayaan yang menyerta. Walau sadar kerinduan akan selalu membuntuti, namun dilepasnya jua keberangkatan Ahmad dengan senyum merekah. Tak lupa dibekalinya Ahmad dengan sesuatu yang sudah disimpannya sejak lama, kenang-kenangan termanis dari almarhum ayahnya.
“Nak, seluruh peninggalan ayahmu sudah habis, tinggal sepetak tanah untuk bekal hidup kita sehari-hari. Tapi Ambu sengaja menyimpan ini untuk kuliahmu, Nak,” kata Ambu sambil menyodorkan sesuatu pada Ahmad.
Disekap haru, Ahmad merasakan dinginnya logam dalam genggamannya. “Apa ini, ‘Mbu?”
“kalung emas ini diberikan ayahmu pada Ambu, seluruh tabungan beliau kala itu ditukarnya dengan kalung ini dan diserahkannya pada Ambu,” suara Ambu agak bergetar dicekat rindu. “Tak disangka seminggu  kemudian ayahmu meninggalkan kita untuk selamanya, Nak,” lanjut Ambu, “Mungkin beliau sudah mendapat firasat akan kepergiannya.”
Dada Ahmad menyesak, didekapnya Ambu penuh kasih. Dirasakannya tangan Ambu mengusap lembut punggungnya.
“Sekarang kalung ini milikmu, Nak. Gunakanlah sebaik-baiknya. Kalung ini juga boleh kau jual kapan saja kau memerlukannya,” kata-kata Ambu membalut hati Ahmad, membuatnya terenyuh sangat, “Hanya ini yang dapat Ambu berikan padamu, semoga bermanfaat ya, Nak.”
Pagi itu disaput kabut dingin Kenjuran, ibu dan anak terbenam dalam  hangatnya penuh cinta. Dari balik Pegunungan Perahu, matahari pagi mengintip iri kemesraan mereka. Kilap benang cahayanya menari-nari mengitari mereka berdua, seakan ikut menghayati setetes cinta Ilahi yang ditipkan pada dua makhlukNya itu.
.....
Walaupun di desanya Ahmad tergolong berkecukupan, tidak demikian halnya ternyata ketika kuliah. Biaya hidup di Jakarta amatlah tinggi, belum lagi keperluan untuk fotocopy, survay, rental computer, dan keperluan lainnya. Ahmad jadi teramat sibuk. Kuliah, organisasi, mencari nafkah adalah deru hidupnya sepanjang hari.
Kalung emas pemberian Ambu tak lagi dalam genggamannya. Bukan, Ahmad tak menjualnya. Rasanya sampai kapan pun tak akan tega ia menjual kalung pemberian Ambu itu. Ahmad hanya menggadaikannya. Uangnya ia pergunakan untuk membayar uang pangkal kuliah yang kalau di desa nilainya setara dengan harga seekor sapi.
Sampai ia menjelang lulus, kalung itu belum juga dapat ditebusnya. Hanya mampu ia perpanjang dengan membayar uang pemeliharaan selang empat bulan sekali. Uang pemeliharaan itu punbiasanya baru terkumpul beberapa hari sebelum tanggal jatuh tempo, sebelum tiba waktunya kalung itu untuk dilelang. Ketika akhirnya uang itu disetorkan, barulah Ahmad bisa bernapas lega. Ah, kalung Ambu masih aman walau tak di tangan sendiri.
Untuk kehidupan sehari-hari Ahmad rajin menjemput rezeki. Disela-sela kesibukan kuliah ia mengajar les privat, membuat spanduk, berjualan diktat, juga berjualan pulsa. Setengah tahun sekali ia pulang menjenguk Ambu, tak lupa melengkapi diri dengananeka oleh-oleh mulaidari makanan kering, selendang, sampai buku-buku dan majalah Islam, mukena serta sajadah.
Ya, semenjak ikut kajian rutin di mushola kampus, Ahmad jadi semakin mendalami indahnya Al Islam. Hal yang sangat langka dan mewah di Desa Kenjuran. Maklum, pemahaman agama warga di desa tersebut sangat sederhana. Karena lokasinya yang tinggi dan terpencil, wilayah tersebut belum terjangkau oleh para mujahid penyebar dakwah. Yang ada hanyalah pembahasan tak berujung, tentang mana yang lebih baik, NU atau Muhammadiyah. Mungkin itu juga penyebabnya, Ambu tercinta belum tergerak untuk shola, bersujud menghadap Ilahi.
Namun karena giat mengikuti pengajian kampus itu pulalah Ahmad jadi dirundung pilu. Bagaimana tidak? Di sinilah ia baru dihenyakkan oleh penuturan jernih seorang ustadz bahwa amal manusia yang pertama dihisab oleh Allah Swt adalah sholatnya. Tanpa sholat, maka semua amal pun tertolak.
“Masya Alloh, Rabb, ampuni ambu hamba,” jerit hati Ahmad.
Sejak itu dalam setiap doa dan sujudnya, hanya benderang hidayah untuk Ambu yang Ahmad pinta. Masalah lain dirasa kecil. Uang SPP yang terlambat dibayarkan, beban ujian akhir semester di depan mata, atau Bhkan jika Ahmad sedang tergolek sakit sekalipun, hidayah untuk Ambu tak petnah bergeser dari urutan teratas daftar doanya.
Buku dan hidayah Islam yang dibawakan Ahmad memang dibolak-balik dan dibaca Ambu, namun sajadah dan mukena sejauh ini hanya diterima dengan ucapan terima kasih dan senyuman. Hanya itu.
....
Ahmad dikepung kesibukan. Besok ia ujian akhir. Hari yang sama dimana jadwal lelang kalung Ambu di pegadaian juga menghantui. Persiapan ujian ia bauri dengan cari uang sana sini. Pembayaran uang pemeliharaan kalung sudah mundur satu minggu dari tanggal jatuh tempo. Besok hari terakhir penyetoran kalau Ahmad sungguh ingin menyelamatkan kalung itu.
Siang itu ia terpuruk di kamar kos. Kelelahan. Menyempatkan diri sejenak merehatkan tubuh sebelum bergegas ke pegadaian, berkejaran dengan pukul tiga, jam tutup tempat itu.
Namun Ahmad lega, terkumpul sudah akhirnya lima ratus ribu rupiah. Walau harus ditutup dengan menjual hp-nya seharga seratus lima puluh ribu. Tak apalah, insya Allah bisa beli lagi kalau ada rejeki. Sore nanti prioritas belajar dulu, ujian akhir esok menanti.
Baru sesaat ia berbaring. Shobur temannya menyeruak masuk.
“Akhi, sudah dengar belum?” katanya dengan napas tersengal.
Masih dengan dada turun naik menata napas, tanpa menunggu jawaban Ahmad, Shobur meneruskan kabar yang dibawanya,”Teman kita Edi Basuki terancam enggak boleh ikut ujian besok, akh, uang SPP masih menunggak lima ratus!”
“Masya Allah,” empati Ahmad, “Kok bisa begitu?”
“Sawah orangtuanya kena wereng, sudah enam bulan lebih ia tidak mendapat kiriman. Apalagi dagangan Edi kini juga kurang laku, kasihan....”
Teman-teman Ahmad memang rata-rata sudah mulai berniaga untuk menutupi kekurangan kiriman orang tua mereka. Maklum, kebanyakan memang perantau yang tak bisa hanya mengandalkan wesel bulanan mereka. Edi sendiri sepengetahuan Ahmad berjualan kaset-kaset Islami, barang yang mulai ditinggal penggunanya sejak maraknya CD dan RBT.
Ahmad merasa kantungnya yang berisi uang lima ratus ribu rupiah terasa panas. Dibayangkannya kesedihan keluarga Edi kalau ia sampai tidak diperbolehkan ikut ujian akhir besok pagi. Tak terperikan bagaimana perasaan ambunya kalau hal tersebut terjadi pada dirinya.
Wajah muram Edi dan pendar cemerlang kalung emas Ambu silih berganti dengan kontrasnya melekat di pelupuk mata Ahmad. “Allah apa yang harus kulakukan?” lirih Ahmad.
Namun sosok Ambu yang pemurah berkelebatan di bilik nuraninya. Ahmad merasa, jika saja Ambu berada di posisinya, besar kemungkinan Ambu akan menyerahkan uang setengah juta itu untuk Edi. Ambu, yang selalu menyisihkan sekepal nasi untuk bebek tetangga, ambu yang selalu memasak dengan kuah banyak agar bisa berbagi dengan tetangga, bahkan tanpa pernah mendengar bahwa Nabi yang mulia menang menyarankannya.
Ahmad menerawang menembus jendela kamar kos, mencari fatwa hatinya. Tak sengaja ekor matanya terpaku pada pemandangan di luar kamar, seraut sarang laba-laba berkilauan ditimpa mentari tampak telah berhasil menjerat maka siang bagi sang pemilik sarang. Sebuah keyakinan yang sulit digambarkan keindahannya tiba-tiba menguat kokoh memenuhi hatinya.
“Mahabesar Engkau Allah, wahai pemberi rezeki,” seru Ahmad lembut, “Sungguh benar firman-Mu bahwa tak satu makhluk pun yang tak Kau jamin rezekinya. Terimalah sedekahku untuk Edi ini, ya Rabb, kuserahkan kembali kalung Ambu pada-Mu. Maafkan aku Ambu, akhirnya aku tak dapat lagi menjaga kalung pemberianmu.”
.....
Sore itu Ahmad lega karena sudah mengambil keputusan yang terbaik. Sudah saaatnya menggamit buku untuk persiapan besok. Tapi sekali lagi Shobur menerobos kamarnya, kali ini dengan senyum mengembang, “Akhi, telpon dari Kenjuran!” katanya.
Setengah berlari Ahmad menuju ruang belajar bersama tempat telepon dipasang di dindingnya. Mungkin telepon ini dari ambunya yang menghubungi lewat hp tetangga. “Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’alaikumsalaam,” suara Ambu membelai telinga dan juga hati Ahmad, namun tak ayal Ahmad menangkap ada gurat kesedihan tersirat.
“Ambu kangen, Nak,” bergetar suara Ambu.
Sepasang ibu anak yang terpisah jarak itu sejenak terdiam bersama.
“Ambu baik-baik saja?” Ahmad menghalau kesenyapan.
Ambu tak menjawab. Mungkin menahan tangis yang siap meluap.
“Ambu,” bisik Ahmad, “Ahmad mengerti Ambu sudah rindu. Ahmad pun sudah sangat ingin pulang dan bertemu Ambu.” Dari gagang telepon terdengar desah nafas Ambu. “Ambu berjanji akan pulang setelah ujian ini selesai ya, Ambu, insya Allah.”
Masih tak ada jawaban, tapi Ahmad yakin Ambu mendengar setiap kata yang ia ucapkan.
“Ambu,” tutur Ahmad perlahan, “kalau yang Ambu rindukan dari kepulangan Ahmad adalah kasih sayang Ahmad, sesungguhnya kasih sayang itu dari Ar Rahman, ‘Mbu... Sungguh, mungkin Allahlah yang Ambu rindukan.”
Ujung telepon di Kenjuran masih hanya memperdengarkan napas berat Ambu. Namun dengan seluruh ketulusan, Ahmad meneruskan kata-katanya. “Ambu, kalau yang Ambu rindukan dari kepulangan Ahmad adalah keceriaan Ahmad, sesungguhnya keceriaan itu dari Al Hayyu yang Mahahidup. Dialah yang sesungguhnya Ambu rindukan, percayalah pada Ahmad, ‘Mbu...”
“Mad...,” serak suara Ambu mengiba, “Ambu ingin bertemu Ahmad....”
“Ambu, Ahmad tahu bagaimana kita dapat berjumpa, hati kita dapat saling berbicara, walaupun Ambu nun jauh di sana,” terbetik ide di kepalanya.
“Maksudmu, Nak?” ada harapan di pertanyaan ambu.
“Shalat, ‘Mbu... shalat....” bujuk Ahmad lagi. ‘Saat shalat, kita berdua terhubung dengan Rabb yang sama, yang akan menyatukan kita. tidak ada yang dapat membatasi kita dengan Allah ketika shalat, ‘Mbu. Mohonlah pada Allah, untuk mengganti kerinduan Ambu pada Ahmad dengan sebaik-baik pengganti.”
Hening. Namun terdengar suara Ambu, “Ambu sayang kamu, ‘Mad. Baik-baik di sana ya. Doa dan restu Ambu selalu menyertaimu. Assalamu’alaikum.”
....
Sebulan setelah telepon itu, di sinilah Ahmad berada. Di Kenjuran mendampingi Ambu. Bulik mnelepon bahwa kesehatan Ambu memburuk, membuat Ahmad menangguhkan segala urusan mengenai kelulusan dan segera pulang ke Kenjuran.
Sesorean tadi ia menghibur Ambu, menceritakan kisah lucu, menggosok punggung Ambu agar hangat, mengurut kaki beliau, menyuapi, dan lain-lain. Semuanya agarAmbu bahagia.
Namun sesungguhnya Ahmad masih menyimpan kelam di lubuk hatinya. Ahmad sangat prihatin dengan sakit Ambu yang tampak parah. Namun yang lebih menekan jiwanya adalah tentang shalat Ambu, bagaimana kalau malaikat menjemput ambunya ketika Ambu belum mengenal shalat?
Malam itu Ahmad menyiapkan diri untuk tahajjud, juga sahur untuk berpuasa sunnah esoknya. “Terimalah ikhtiar hamba ini, Allah,” doa Ahmad.
....
Ketika Ahmad bangun, hawa dingin sangat menusuk. Berwudhu di Akhir malam tak mungkin dilakukan dengan air pegunungan yang sedingin es. Tangan Ahmad merinding kedinginan bahkan kakinya sampai hampir tak terasa keberadaannya. Ahmad pun berwudhu dengan air ceret yang hangat.
Binyalakannya tungku dengan bonggol jagung yang kering. Dapur yang luas, dingin, dan gelap, namun di muka Ahmad berkobar gegap gempita berderak-derik bonggol jagung menjadi bara. Ahmad duduk di dingklik kayu di muka tungku sambil melahap nasi ditemani sayur lombok ijo. Nikmatnya luar biasa. Direguknya teh panas dengan gula aren. Betapa nikmatnya ketika teh panas itu mulai menyusupi  rongga mulut Ahmaad, tenggorokan, rongga dada hingga ke perut.
Dengan tubuh hangat Ahmad mulai berzikir, mencicipi kenikmatan tak terperi malafaikan nama-nama Allah yang indah. Bergetar jiwanya. Merugilah mereka yang tak berusaha mengenal Dia. Sunguh Allah tak pernah tidur. Ketika semua makhluk lelap dalam senyapnya malam, tak putus Dia mengabulkan segala doa, menunjukkan jalan terindah menjuju keridhoan-Nya.
Digarang di muka api, tubuh Ahmad semakin menghangat, semantara hatinya dihangatkan oleh bacaan Al Quran. Usai sahur danmengaji, Ahmad pun berdiri menghadap Allah lewat tahajjud. Betapa nestapa Ahmad mengingat ibunya yang sedang sakit, yang belum jua shalat. “Berikanlah kesembuhan pada Ambu, atau khusnul khatimah jika Engkau menghendaki sebaliknya, ya Allah,” Ahmad mengiba.
Di malam yang syahdu itu surat An Naas terasa begitu menggetarkan. Ahmad jadi merasa sangat menghayati sujudnya seorang hamba kepada Rabbnya, sujud dengan segala kerendahan dan penyerahan diri. “Sesungguhnya aku sayang Ambu, tapi Engkaulah pemilik Ambu ya, Allah. Pastilah Engkau lebih sayang lagi padanya, Allah...”
Malam semakin mendekati ujung, Ahmad malah semakin gamang karena merasa istighfarnya belum juga ditanggapi Allah. “Ya, Allah, mohon kiranya Engkau berkenan memberi pertanda, bahwa Engkau mendengar doa kami.”
Menunggu adzan Shubuh, Ahmad terus menggiatkan istighfar, memohon ampunan bagi Ambu dan dirinya. Jemarinya tanpa sadar membuka-buka lembar tafsir Al Quran. Ahmad takjub tak terkira ketika matanya terantuk pada kalimat : “... dan yang memohon ampun di waktu sahur....”
“Bukankah itu yang sedang hamba kerjakan ya, Allah?” bisik Ahmad. Bergegas matanya menelusuri ayat tersebut secara menyeluruh dan tak dapatlah perasaannya saat itu dilukiskan karena begitu terguncangnya hatinya membaca surat Ali Imron ayat 15-16 di mana Allah berfirman :
‘Katakan : “Inginkah Aku kabarkan padamu apa yang lebih baik dari yang itu?” untuk orang yang bertaqwa (pada Allah), di sisi Tuhan mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan yangmemohon ampun di waktu sahur.’
Subhanallah, air mata Ahmad bercucuran. Malam itu begitu nyata. Ia menjanjikan ampun
dakah di dunia ini yang lebih berharga dari daripada ridho dan ampunan-Nya?
Adzan shubuh memanggil. Ahmad keluar menuju masjid yang hanya dipisahkan sepetak tanah kosong dengan rumahnya.
Shubuh yang indah. Ditutup dengan jamaah bersama-sama bershalawat dengan shalawat yang nadanya mirip tembang Jawa dan tidak pernah Ahmad temukan di masjid mana pun di Jakarta. Shalawat yang selalu membuatnya rindu Rasulullah Saw. dan rindu shalat berjamaah di Kenjuran.
Ciri unik lain shalat berjamaah di masjid ini adalah ramainya suara batuk para jamaah. Maklum, dinginnya bukan kepalang. Namun, dari shaf jamaah wanita di belakang, ada satu suara batuk khas yang tak mungkin salah Ahmad kenali.
“Subhanallah, Ambu?” heran Ahmad. Tak sabar disibaknya tirai pemisahan dijumpainya Ambu dan Bulik duduk dalam mukena mereka.
Diraihnya dan diciuminya bertubi-tubi.
Melihat mata Ahmad yang penuh keheranan, Bulik berkata tanpa ditanya, “Ahmad ingat terakhir kali Ambu telepon Ahmad? setelah itu ambumu langsung mau shalat. Alhamdulillah. Sudah sebulan ini shalat wajib tiada yang bolong.”
“Terima kasih Allah, hidayah yang sangat indah,” bisik Ahmad dalam hati. Senyum bahaganya tak jua menyusut. Lama sekali.
.....
Ahmad memaksa supir ojek ngebut laksana angin setelah mendengar kabar jatuhnya Ambu yang disampaikan salah seorang tetangganya.
Ia masih ingat beberapa saat sebelumnya Ambu melepas kepergiannya ke Jakata, setealah seminggu ia tinggal di Kenjuran. Meski berat, anak muda itu menyadari bahwa banyak yang harus ia urus di kampusnya berkaitan dengan kelulusannya.
Sungguh Ahmad tidak memiliki firasat apa pun saat berangkat, sampai seorang tetangga dekat rumahnya mengabarkan perihal Ambu yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Ketika ia tiba, rumahnya sudah ramai oleh warga. Rupanya kabar telah tersiar. “Ambu?” Ahmad menerobos masuk ke kamar Ambu.
Kebingungan, Ahmad mencoba untuk tenang, duduk di lantai, menggenggam tangan Ambu dan membimbing beliau tahlil. Dalam pejam Ambu, Ahmad melihat ada air bening yang menggulir keluar dari mata beliau.
“Kalung, Mad, kalung...,” suara Ambu sangat lirih, nyaris tak terdengar.
“Kalung apa, Ambu sayang?” tanya Ahmad, mengusap pipi ambu.
“Kalung... da... ri... a... yah,” jawab Ambu makin pelan, terpatah-patah.
Mendengarnya, Ahmad tak kuasa untuk tergugu. Pemuda gagah itu pun menangis, “Maafkan Ahmad, Ambu... ampuni Ahmad... kalung itu sudah tidak ada,” sesal Ahmad miris
“Bu... kan... itu... Mad,” sela Ambu di tengah nafasnya yang mulai satu-satu. Matanya masih erat terpejam.
“Kalung itu... bercahaya terang... sekali, indah...,” ruangan senyap mendengarvtutur Ambu. “Mad, kalung itu... seolah menuntun... Ambu... ke tempat... terang... cahaya...”
Subhanallah. Ahmad jadi terkenang kalung yang tak dapat ditebusnya karena menolong Edi. “Allah, ternyata Engkau menebusnya untuk kami... Engkaukah pembeli kalung yang dilelang itu?”
..tamat..


*Cerpennya ini menjadi cerpen terbaik dari hampir 100 orang peserta AsmaNadia Writing Workshop

Jumat, 28 Desember 2012


Alhamdulillaah. Kereen. Di penghujung tahun 2012 ini, ane mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari kucing. Ya, kucing. K-U-C-I-N-G. Ane dibuat terkesima dengan perilaku hewan yang satu ini. Memang, ia hanyalah makhluk dengan insting, tanpa akal. Namun, lebih dari itu, ternyata tanpa disadari ia memberikan banyak pelajaran berharga tentang hidup kepada orang2 yang berakal dan mau memperhatikan. Mereka mengajarkan kita tentang kekuasaan, pertahanan hidup, dan cinta. Setidaknya, itulah yang ane dapatkan selama sekian waktu penelitian. Hehe.. bukan penelitian yang serius ko, jadi ga ada laporannya.
Seringkali banyak di antara kita yang tak mempedulikan kucing2 di sekitar kita. Jangankan sekadar memberinya makan, parahnya, ada yang tega menyakitinya. Alih-alih untuk kebaikan, ternyata cara yang digunakan adalah mengusirnya dengan bentakan yang orang pun bisa sampai kecut nyalinya, menendangnya sepenuh jiwa, melemparnya tanpa pamrih -loh?- , menyiramnya dengan air panas hingga kulit arinya terlihat jelas dan bulu2nya tak dapat tumbuh lagi. Bahkan ada yang sampai membungkusnya dengan karung atau dimasukkan ke dalam kotak, lalu membuangnya di suatu daerah antah berantah yang dingin, sepi, tanpa makanan, tempat tinggal, apalagi sanak saudara. Ckckck.. kasihan yah. Percaya atau tidak, Itu semua dilakukan tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun. Bukan main! Ngeri banget ga sih..
Oke, back to main topic. Maaf, openingnya kepanjangan. Jadi gini, beberapa waktu yang lalu, kalau ga salah –berarti bener-, tanggal 24 Desember 2012, ane dikejutkan dengan perilaku setubuh kucing (ga enak kalau Cuma nyebut ekornya aja) yang sudah memiliki 2 anak (1 anak kandung berwarna loreng dan 1 anak tiri berwarna oranye, nanti ane ceritain). Saat itu, entah darimana datangnya, ada seekor anak kucing berwarna putih yang mungil, imut, lucu, tapi agak belekan, nyelonong masuk ke dalam Asetra Bogor (Asrama Etos Putra). Tanpa permisi, apalagi ngetok pintu dan ngucapin salam. Parah beud, dasar kucing ga punya akal. Datang tak dijemput, pulang tak diantar –emang jailangkung?-.
Hebatnya, kucing putih nan mungil tapi agak belekan itu datang sendirian tanpa ada yang mengantar. Bayangkan, betapa dia harus menempuh risiko dengan melewati jalan raya Bateng yang padat tengkurep karena banyaknya kendaraan yang lalu lalang, selain itu ia pasti menghirup asap kendaraan (gas CO)  yang beracun, dan ditambah lagi ancaman pelecehan atau pembunuhan dari kucing2 jalanan garang yang siap menerkam kapan pun. Ah, mengerikan sekali, sekaligus kasihan. Alhamdulillah, Alloh telah menemaninya melewati semua itu hingga akhirnya ia tiba di Asetra.
Saat itu, ane lagi asyik mengerjakan proyek gambar tim puskomnas dan tiba2 kucing itu datang menghampiri. Sekilas, ia nampak imut dan cantik dengan tubuh kecil dan warna putih polosnya. Namun, perasaan kagum itu langsung terhapuskan oleh sebongkah pertanyaan dalam benak ane, “eh, itu kucing darimana?”. Daripada bingung, langsung saja ane tanyakan pada penghuni Asetra yang saat itu ada di dekat ane. Tepat seperti dugaan ane, mereka bilang bahwa kucing kecil itu datang dari suatu daerah antah berantah. Tak puas dengan jawaban saudara2ku tadi, khayalku pun melayang, mencari beragam hipotesis2 yang mungkin bisa menjawab rasa penasaranku.
Hmm, mungkinkah ia titisan dari langit untuk menjaga Asetra? Atau mungkin ia turun sebagai ujian kesabaran dari Alloh bagi para penghuni Asetra? Atau jangan2 ibu kucing kecil itu sengaja membawa anaknya ke Asetra karena kondisi ekoniminya tak memungkinkan lagi untuk merawatnya, sehingga ia kabur secara  diam2 secepat cahaya, meninggalkan anaknya yang putih polos itu sendirian tanpa teman? Atau mungkin kucing kecil itu sengaja kabur karena tak tahan dengan sikap orang tuanya yang kerap menyiksanya, mencaci-maki dirinya, dan menyudutkannya dengan kata2 kasar? Entahlah. –ko terasa agak aneh ya, hehe-
Nah,ini nih yang bikin ane kagum, terpukau, dan terenyuh. Tak disangka, kucing putih polos tadi diizinkan menyusu oleh ibu kucing beranak kandung 1 yang telah lama tinggal di Asetra!! Luarbiasa. Sekadar kalian tahu, sebelum kucing kecil yang berwarna putih polos itu datang, ada seekor anak kucing berwarna oranye yang asal usulnya sama seperti anak kucing putih itu dan ia juga diizinkan menyusu pada ibu kucing itu. kini ia menjadi anak ke-2 ibu itu dengan status anak tiri (seperti yg disebutkan diawal). Hmm, subhanalloh. Keren kan?? Entahlah, apa yang menjadi pertimbangan ibu kucing beranak satu itu sehingga mau menerima kedua anak kucing liar itu. Hebatnya, sama sekali tak ada diskriminasi dari ibu kucing. Yang ada malah anak kucing sebatang kara tadi dijilati oleh ibu kucing, pertanda bahwa ia disayang dan resmi diterima sebagai anaknya yang ke-3 dengan status anak tiri. kaka2nya pun tak mendeskreditkannya, atau pun mengucilkannya. Sesekali mereka bermain bersama, cakar-cakaran, kejar-kejaran, dan aktifitas bermain lainnya. Senang rasanya melihat si anak kucing kecil putih tadi diterima dengan lapang dada oleh keluarga kucing Asetra. Indahnya, persaudaraan itu. Mahasuci Alloh Yang telah mengaruniakan kepada makhluk hidupNya rasa kasih dan sayang.
    Pembaca yang budiman, setidaknya dari sepenggal kisah tadi, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata kita. Ibu kucing tadi mengajarkan kita bahwa dalam memberikan kasih sayang tak boleh ada perbedaan, bahkan walaupun ia tampak berbeda dengan yang lain. Jangan sampai keegoisan membutakan mata perikemanusiaan yang ada dalam lubuk hati kita. jangan sampai penilaian kita yang sempit, menjadikan kita tega untuk tidak optimal dalam menyayangi. Menyayangi ayah, ibu, anak, istri, atau saudara2 kita. Teruslah berpikir positif agar tak ada pertimbangan2 yang sengaja diada2kan dalam benak kita yang kerap menggoyahkan niat baik kita. Ketika timbul prasangka2 negatif, segera timbun dengan 1001 alasan positif yang bisa menenangkan hati ini. Boleh jadi ia jelek menurut kita, tapi indah, mempesona, atau mulia di hadapan Sang Pencipta, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Boleh jadi, ia terlihat bodoh di mata kita, tapi ternyata ia menempati derajat yang jauh lebih tinggi daripada kita di hadapan Alloh karena kerendahhatiannya.
Ada satu hadits yang mungkin bisa menjadi inspirasi kita dalam menyayangi, tapi maaf ane lupa redaksi haditsnya yang lengkap. Intinya adalah Rolululloh pernah berpesan, “sayangilah yang ada di bumi, maka penduduk langit akan menyayangimu.”
bagi pecinta kucing, lanjutkan rasa cintamu. Bagi yang belum cinta, maka belajarlah untuk mencintainya, minimal tidak menendang atau memukulnya ketika ia datang menghampiri kita yang sedang makan. Ingat, cinta adalah kata kerja, tidak pasif. Maka berusahalah untuk mencintainya.

Senin, 17 Desember 2012


 Betapa tenteram dan nyamannya hidup ini jikalau di dalam hati tidak memiliki perasaan berharap kepada manusia. Setiap langkah yang terayun, keringat yang menetes, bahkan tenaga dan pikiran yang dikeluarkan adalah dalam rangka mempersembahkan yang terbaik agar Alloh suka dan cinta. Betapa bebasnya hidup ini jikalau hati tak terikat oleh makhluk. Setiap hari bebas dari memikirkannya, bebas menentukan arah yang diinginkan, dan yang terpenting adalah terbebas dari “perbudakan”. Benar-benar bahagia seperti burung yang terbang bebas di udara atau ikan yang berenang di lautan.
Tahukah kita, ternyata hal yang sering membuat kita sakit hati bukanlah hujatan atau makian orang lain kepada kita, tetapi karena adanya perasaan ingin dipuji, dihargai, dan dicintai oleh manusia yang menyesaki ruang hati kita. Betapa lelahnya orang yang hidup seperti ini, dia akan rela mengerahkan segenap daya dan upaya yang dimilikinya hanya agar orang lain memuji atau memberi penghargaan kepadanya. Fikirannya terlalu fokus pada penilaian manusia sampai-sampai melupakan, bahkan menghilangkan kedudukan Alloh di hatinya. Miris sekali rasanya.
Sungguh, semua pandangan dan penilaian dari manusia tidak akan kekal, hanya sebentar, lalu buyar. Memang, pada awalnya, orang yang telah sukses membuat orang lain memujinya, dia akan merasakan kebahagiaan yang besar, seakan-akan dia adalah orang yang paling hebat. Tetapi, ternyata semua anggapan itu tak sepenuhnya benar. Kebahagiaan yang dirasakannya semu dan tak akan lama. Semu karena sebenarnya penghargaan manusia itu tipuan yang bisa membuat terlena jika tak pandai menyikapinya. Penghargaan-penghargaan manusia pun hanya sebentar seperti ember yang jatuh, “gubrak!!” lalu selesai.
Tidak dilarang merasa bahagia dengan pujian atau penghargaan semacamnya dari manusia. Tapi yang perlu diperhatikan adalah cara kita menyikapinya. Jikalau kita menyikapinya dengan bangga diri, atau sombong, maka itulah yang tak diperbolehkan. Misalnya, ketika ada orang yang diwisuda dengan memakai pakaian toga atau ketika baru menjabat sebagai direktur suatu perusahaan, lalu temannya memuji, “Bro, sumpah lo keren banget hari ini. Gagah..”. lalu, dia menanggapinya, “Ah, biasa ini mah. Emang dasarnya gue udah keren kali..” atau “Weits, gue gitu loh. Kerja keras gue nih..” atau malah seperti ini, “Ya iyalah. Emang lo, dari dulu sampe sekarang ga lulus-lulus? Haha.. –tertawa sambil megang perut-” Ini yang salah. Alangkah baiknya jika dia menanggapi pujian tadi dengan kata-kata seperti ini, “Masa? Ah,ini kan juga karena bantuan lo bro..” atau “Oh gitu ya? Alhamdulillaah, ini hadiah dari Alloh atas usaha dan doa gue selama ini. Biasa aja,  jangan terlalu belebihan memuji gue” atau seperti ini, “Alhamdulillaah. Lo kalo berada posisi kayak gue juga keliatan keren ko. Semoga hati gue lebih keren daripada tampilan luar gue”
Terlihat sangat kontras dua macam tanggapan di atas. Tanggapan yang pertama sampai tiga bernadakan kesombongan, bangga diri, dan yang lebih parah adalah tak bersyukur. Menganggap bahwa yang ada pada dirinya saat itu adalah buah dari kerjakerasnya selama ini, tak menyertakan sedikit pun peran Alloh yang sebenarnya telah memberinya izin sehingga menjadi seperti itu. Coba kalau Alloh tak mengizinkan? Sangat mustahil ia akan seperti itu. Malah mungkin yang ada, dia akan menjadi terhina dan dicaci-maki banyak orang.
Pada tanggapan yang empat sampai enam, kerendahhatian begitu kental terasa. Tidak sombong, bangga diri, atau melecehkan orang lain. Itulah sebaik-baik pribadi, atau akhlak yang mulia. Dia menganggap bahwa dirinya bukanlah apa-apa kalau Alloh tak memberinya kesempatan untuk seperti itu. Dia juga menganggap semuanya sebagai bentuk kasih sayang Alloh kepada dirinya yang senantiasa berusaha dengan optimal dan sungguh-sungguh berdoa. (bersambung..)